Kamis, 14 Juni 2012

Hidupku Di Perantauan...

aku bersendirian dikota orang ...
hidup berdikari ...
tanpa kasih sayang dan keprihatinan ...
ramadhan bulan penuh mulia ...
tapi aku merasa sepi dan sedih tanpa keluarga ...
berbuka dan bersahur seorang diri ...
tanpa ditemani sesiapa ...
menyambut ramadhan dengan penuh kesedihan ...
ku lewatkan ramadhan tidak bersama dengan keluargaku ...
ku merindui masakan ibuku ...
hidupku sepi tanpa gelak tawa adeku yang tersayang ...
hatiku hanya bisa menangis mengenangkannya ...
ingin kembali kepada keluargaku tercinta ...
tapi apalah daya masih ada tanggung jawab yang harus aku lakukan disini ...

Renunganku...

   aku punya mimpi dan cita-cita dalam hidupku, aku percaya akan semua cita-citaku, akan ku ingat semua nasehat budimu ... aku akan selalu tetap tabah di perantauan ini, akan ku tekuni yang baik disini ... dalam kesunyian sepi aku merindukanmu, begitu banyak malam kuhabiskan untuk memikirkanmu, aku tau engkau khawatir dan gelisah memikirkanku, tapi aku selalu berdo'a dengan tulus agar engkau baik-baik saja ...

   selama hampir dua tahun ku menapaki ditanah perantauan ini, aku semakin sadar akan arti kehidupan sesungguhnya, banyak hal yang kudapati mulai dari cara bergaul, beradaptasi, dan mengurus diri sendiri ...

   ibu, teguhlah selalu dalam do'amu, karena do'amu selalu menyertai perjalanan hidupku, aku akan mencari uang dan mencari ilmu sebaik-baiknya agar dapat yang aku cita-citakan tercapai ...

"demi engkau ibu dan adekku"

Sebuah Harapan Yang Tak Pernah Habis Ku Gantung...


"aku ingin sukses, aku ingin bahagia"
   aku ingin membahagiakan diriku dan keluargaku ... aku ingin keluarga ibuku dan  adeku bahagia dalam hidupnya ... perjalanan hidupku masih panjang ... aku harus menapaki sekian banyak jalan yang harus kutempuh ... aku harus banyak berbekal buat masa depanku, bukan hanya didesa ini, bukan hanya didaerah ku lahir ... aku harus keluar dari desa ini ... bukankah Syekh Syarif Hidayatullah juga berkelana ...? bukankah orang-orang besar juga mengembara, bukankah kebijaksanaan akan ditemukan dalam perantauan, bukankah dalam perantauan banyak ilmu yang digapai ...
   sekarang, disini, tempatku mengais puing-puing harapan, aku sudah sedikit banyak belajar arti perjuangan dan pengorbanan ...
   sekarang, disini, tempatku menyusun kepingan puzzle cita-cita dan bahagia ... aku temukan diriku menangis dan tertawa bergantian, aku temukan diriku berkecukupan dan kekurangan bergantian ... aku dapati aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri, walau terkadang gelombang ombak tidaklah kecil aku hadapi ... tapi aku yakin, aku akan berhasil menggapai kebahagiaan yang aku cita-citakan ...

Jalanku...

semua sudah dimulai,,,
walau harus berjalan sendiri...
aku akan mencoba tegar,,,
dan semua harus dilalui...

biarkan mentari itu bersinar lagi,,,
karena terangnya akan menuntun jalanku...
biarkan burung burung berkicau lagi ,,,
karena merdunya akan menghiburku...

semua sudah dimulai,,,
karena sesuatu datang dan pergi...
jalan cerita harus berlanjut,,,
kini saatnya ku menikmati hidup...

semua punya masa lalu,,,
yang terkadang terasa pilu...
sebab semua telah berlalu,,,
yang indah bila dibayangkan...

ini hidup,,,
dan sekarang saya mesti berjuang...
bertahan dari kejamnya waktu,,,
dari badai kehidupan yang pilu...

saatnya belajar dewasa,,,
karena hidup itu memang tak mudah...
bukan saatnya berkeluh kesah,,,
biarkan semuanya menjadi indah...

suatu saat pasti akan ku terima,,,
apa itu buah kesabaran...
yang ditanam dengan ke ikhlasan,,,
dan dipetik dengan kebahagian...

saya tidak salah,,,
saya hanya saja menjalankan takdirnya ...
tidak ada keterpurukan,,,
saya belajar untuk berdiri sendiri...

buat apa kemarahan,,,
bila senyum kecil terasa lebih indah...
bila tertawa dapat mendamaikan segalanya,,,
bila canda dapat menghangatkan suasana...

buat apa menangis...?karena tangis bukan jawaban...!"